ABSTRAK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
1. Widada, Wahyu. 2003. Struktur Representasi Pengetahuan Mahasiswa tentang Permasalahan Grafik Fungsi dan Kekonvergenan Deret Takhingga pada Kalkulus. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Suraba-ya. Promotor: Prof. R. Soedjadi, Ko-Promotor: Drs. Ketut Budayasa, Ph.D.
Kata-kata Kunci: APOS, skema yang matang, triad, interaksi skema double-triad, interaksi skema model baru (ISMB), tingkah laku skema mahasiswa, karakteristik setiap level dari ISMB.
Tujuan penelitian ini adalah 1) menentukan tingkah laku skema mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan sketsa grafik suatu fungsi non-rutin; 2) menentukan tingkah laku skema mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan kekonvergenan barisan dan deret takhingga; 3) menentukan karakteristik masing-masing level dan interaksi skema model baru (ISMB).
Untuk mencapai tujuan di atas, dilakukan penelitian kualitatif sebagai suatu prosedur untuk mengungkap hakikat gejala-gejala yang muncul dan subjek penelitian. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa S-1 Matematika dan S-1 Pendidikan Matematika FMIPA Unesa, dan mahasiswa S-1 Pendidikan Matematika IAIN Sunan Ampel Surabaya. Subjek dipilih tidak secara random, namun diambil mahasiswa dengan mempertimbangkan prestasi akademiknya. Pemili-han subjek dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutu-han.
Proses pengumpulan data dilakukan melalui inter-view berbasis tugas, dan data yang terkumpul dianalisis dengan analisis dekomposisi genetik. Kemudian dilakukan analisis dengan metode-perbandingan-tetap untuk mendes-kripsikan karakterisastik setiap level dan ISMB.
Penelitian ini memperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1) Terdapat lima tingkah laku skema mahasiswa yang ber-beda dalam menyelesaikan masalah sketsa grafik fungsi nonrutin, dan ada lima tingkah laku skema mahasiswa yang berbeda dalam menyelesaikan masalah kekon-vergenan barisan dan deret takhingga. Pertama: mahasiswa dapat melakukan aksi-proses-objek secara terpisah. Kedua: mahasiswa dapat membangun hubungan antara aksi dan proses. Ketiga: mahasiswa dapat membangun hubungan antara aksi-proses-objek. Keempat: mahasiswa dapat membangun hubungan antara aksi-proses-objek atau skema namun belum terbentuk skema yang matang (hanya terbentuk premature schema). Kelima: mahasiswa dapat membangun hubungan antara aksi-proses-objek dan skema awal (previous schema), sehingga terbentuk suatu skema yang matang (mature schema).
2) Interaksi skema model baru (ISMB) memuat lima level yaitu level intra, level semi-inter, level inter, level semi-trans, dan level trans. Karakter setiap level ISMB adalah sebagai berikut:
a) Level Intra: Mahasiswa yang berada pada Level Intra, hanya dapat melakukan aksi, proses atau objek secara terpisah, dan tidak dapat membangun hubungan aksi, proses atau objek tersebut.
b) Level Semi inter: Mahasiswa yang berada pada Level Semi inter, dapat melakukan aksi, proses, atau objek. Namun, mereka hanya dapat mengoordinasikan aksi dan proses saja.
c) Level Inter: Mahasiswa yang berada pada Level Inter, dapat mengonstruksi keterkaitan antara aksi, proses, dan objek untuk membentuk premature schema. Dalam pembentukan premature schema tersebut mereka tidak menggunakan previous schema sama sekali.
d) Level Semi-trans: Mahasiswa yang berada pada Level Semi-trans, dapat mengonstruksi keterkaitan antara aksi, proses, dan objek sehingga terbentuk premature schema. Dalam membentuk premature schema tersebut ada kemungkinan digunakan previous schema.
e) Level Trans: Mahasiswa yang berada pada Level Trans, dapat membangun keterkaitan antara aksi-aksi, proses-proses, objek-objek, dan skema awal (previous schema) sehingga terbentuk suatu skema yang matang (mature schema).
2. Sa'dijah, Cholis. 2005. Pengembangan Model Pembelajaran Matemalika Beracuan Konstruktivisme untuk Siswa SMP. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Surabaya. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H. Herman H., M.Ed., (II) Prof. Drs. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed., Ph.D., dan Konsultan: Drs. Ketut Budayasa, Ph.D.
Kata-kata kunci: pembelajaran matematika, konstruktivisme
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme untuk siswa SMP yang valid, praktis, dan efektif. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Fokus penelitian ini adalah pengembangan model pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme (PMBK) sesuai tujuan penelitian ini. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model PMBK beserta perangkat pembelajaran dan instrumennya. Perangkat pembelajaran tersebut adalah Rencana Pembelajaran (RP) dan Lembar Kegiatan Matema-tika untuk Siswa (LKMS) termasuk Lembar Tes setiap akhir kegiatan pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah siswa dan 1 guru yang melakukan kegiatan pembelajaran mate-matika yang menggunakan model pembelajaran matem-atika beracuan konstruktivisme (PMBK). Lokasi penelitian ini di kelas I SMP Negeri I Malang tahun pelajaran 2003/2004. Kelas IA, 1B, dan IC berturut-turut sebagai kelas untuk uji coba pertama dan kedua, serta untuk implementasi terbatas model PMBK.
Komponen-komponen model PMBK dalam penelitian ini adalah sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, serta dampak instruksional, dan dampak pengiring. Pengembangan model PMBK ini mengacu pada model umum pemecahan masalah pendidikan oleh Tjeerd Plomp yang terdiri dari lima fase, yaitu (a) fase investigasi awal, (b) fase desain, (c) fase realisasi, (d) fase tes, evaluasi, dan revisi, serta (e) fase implementasi.
Hasil pengembangan model PMBK dalam penelitian ini memiliki sintaks (langkah-langkah pembelajaran) yang terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan inti terdiri dari 4 fase, yaitu fase kesadaran, fase operasional, fase reflektif, dan fase penyusunan persetujuan. Pada fase kesadaran dan fase operasional, anak belajar matematika secara individu, sedangkan pada fase reflektif dan fase penyusunan persetujuan anak belajar matematika secara kelompok kooperatif. Hasil pengembangan model PMBK dalam penelitian ini, memenuhi enam karakteristik sebagai berikut. (a) Karakteristik pertama, mengaitkan pembelaja-ran dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. (b) Karakteristik kedua, mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan. (c) Karakteristik ketiga, menyediakan alternatif pengalaman belajar. (d)Ka-rakteristik keempat, mendorong terjadinya interaksi dan kerja sama dengan orang lain atau lingkungannya. (e)Ka-rakteristik kelima, mendorong penggunaan berbagai repre-sentasi. (f) Karakteristik keenam, mendorong adanya refleksi dini.
Hasil pengembangan model PMBK dalam peneli-tian ini memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan keefektifan.
3. Sunardi, 2005. Pengembangan Model Pembelajaran Geometri Berbasis Teori van Hiele. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Surabaya. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H. Herman Hudojo, M.Ed., (II) Prof. Dr. H. Muchlas Samani, M.Pd., dan Konsultan: Drs. Ketut Budayasa, Ph.D.
Kata kunci: Model pembelajaran, geometri, teori van Hiele
Penelitian ini dilatari oleh pertimbangan adanya tuntutan untuk mencapai kondisi ideal, yaitu menye-diakan model pembelajaran yang mampu melayani siswa belajar geometri sesuai dengan karakteristik siswa (tingkat berpikir siswa dalam geometri) dan karakteristik materi geometri yang dipelajari.
Dalam penelitian ini model pembelajaran diarti-kan sebagai suatu kerangka konseptual pembelajaran yang memuat tujuan, sintaksis, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional dan dampak pengiring pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan dan menghasilkan model pembelajaran geometri yang sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik materi geometri. Model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran geometri berbasis teori Van Hiele (model PBH).
Untuk mencapai maksud di atas dilakukan penelitian pengembangan dengan mengikuti fase-fase pengembangan: (1) investigasi awal, (2) desain, (3) reali-sasi/konstruksi, dan (4) tes, evaluasi, dan revisi. Kegiatan pada fase tes, evaluasi, dan revisi meliputi validasi, uji coba, dan revisi. Kegiatan uji coba meliputi uji coba perorangan dan uji lapangan (uji coba 1 dan uji coba 2). Uji coba dilaksanakan pada siswa kelas I dan II SLTPN 3 Jember. Fokus kajian uji coba adalah pada kualitas kesahihan, kepraktisan, dan keefektifan model PBH dan perangkatnya.
Hasil uji coba 1 menunjukkan bahwa model PBH memenuhi kriteria kesahihan, kepraktisan, dan sebagian kriteria keefektifan. Kriteria keefektifan yang belum terpenuhi adalah tentang penguasaan bahan pembelajaran dan pencapaian tingkat berpikir siswa dalam geometri. Hasil uji coba 2 menunjukkan bahwa model PBH memenuhi semua kriteria. Dengan demikian model PBH merupakan model pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif.
Produk pengembangan dalam penelitian ini adalah model PBH dan perangkatnya. Model PBH memuat landasan teoritis, komponen, dan pelaksanaan pembelaja-ran menggunakan model. Perangkat model PBH terdiri dari: Buku Siswa, LKS, LJLKS, RP, Paket Kuis, Paket Tes Penguasaan Bahan Pembelajaran, dan Paket Tes Tingkat Berpikir Siswa dalam Geometri. Paket tes yang terakhir tidak dikembangkan, tetapi digunakan sebagai perangkat model.
Model PBH merupakan model pembelajaran geometri, oleh karena itu penggunaan model tersebut adalah terbatas pada geometri. Namun demikian, dengan menggunakan ide/konsep model PBH dapat diturunkan model pembelajaran dengan penggunaan pada ca-bang/disiplin lain.
4. Yuwono, Ipung. 2005. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika secara Membumi, Disertasi Doktor, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Pembimbing: (I) Prof. Herman Hudojo, M.Ed., (II) Prof. Dr. Mohamad Nur, dan Konsultan: Drs. Ketut Budayasa, Ph.D.
Kata-kata kunci: model pembelajaran, membumi, keterampilan prosedural, pemahaman konsep
Sampai saat ini hasil dan proses pembelajaran matematika di SMP masih jauh dari yang diharapkan. Pembelajaran matematika lebih banyak memberikan pene-kanan pada keterampilan prosedural, kurang memberikan penekanan pada proses pemerolehan konsep oleh siswa. Banyak temuan yang menunjukkan bahwa pengajaran matematika yang banyak memberi penekanan pada kete-rampilan prosedural, dan hanya mementingkan hasil, berakibat negatif pada diri siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan dan menghasilkan model pembelajaran matematika di SMP yang valid, praktis dan efektif. Model pembelajaran yang dikembangkan dinamai model Pembelajaran Matematika secara Membumi (PMB). Model PMB ini memberikan penekanan pada proses pemerolehan konsep oleh siswa. Setelah konsep diperoleh siswa, siswa dilatih untuk menginternalisasi konsep tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Untuk mendapatkan model dan produk yang valid, praktis dan efektif, dilakukan pengembangan model dengan melewati validasi ahli, simulasi dan ujicoba lapangan. Penelitian ini menghasilkan model pembelajaran yang dinamai Model PMB, bersama pelengkap model yang berupa buku siswa dan buku guru. Model PMB yang dihasilkan telah memenuhi kriteria kevalidan, dan kepraktisan. Model belum memenuhi salah satu kriteria yang telah ditetapkan yaitu kriteria keefektifan. Dari 5 kriteria keefektifan model, terdapat satu kriteria yang belum dipenuhi, yaitu pada aktivitas siswa. Kriteria yang belum dipenuhi itu hanyalah sebagian kecil dari kriteria keefektifan yang telah ditetapkan. Selain hasil penelitian di atas, penelitian ini juga menghasilkan beberapa temuan ikutan yang sering disebut teori lokal. Teori lokal adalah teori pembelajaran yang hanya berlaku pada materi pelajaran atau komunitas yang relatif kecil atau terbatas. Teori lokal itu adalah (1) teori yang menyatakan bahwa pembangunan bilangan bentuk akar melalui pendekatan geometris lebih bermakna daripada pengenalan secara aljabar dan (2) dominannya pola pikir analogi dalam belajar matematika pada siswa. Beberapa fakta yang dapat dilaporkan dalam implementasi PMB di antaranya (1) faktor pendukung implementasi PMB adalah (a) setiap siswa mendapatkan buku siswa, (b) tingginya se-mangat siswa, (c) suasana belajar yang riang terkendali dan tidak tegang atau tidak kaku dan (d) gurunya cukup antusias dan mampu menggiring siswa untuk mendapat-kan pemecahan masalah yang dihadapi siswa; (2) faktor penghambat dalam implementasi PMB adalah (a) kendala waktu, (b) kemampuan siswa bervariasi, (c) sulitnya mengembangkan buku siswa, dan (d) perlu persiapan guru yang memadai; (3) pada umumnya ahli dan guru mempunyai tanggapan yang positif terhadap implementasi PMB di kelas; (4) kelebihan dari PMB adalah (a) melatih siswa untuk lebih aktif dalam pemecahan masalah, (b) dengan menemukan sendiri konsep matematika, siswa menjadi lebih baik dan tajam dalam menganalisis konsep matematika, dan (c) siswa yang aktif akan terdorong untuk lebih bersemangat "mengutak-atik"matematika. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan hal-hal sebagai berikut. (1) pengembang kurikulum di tingkat kabupaten atau kota hendaknya menerbitkan buku model PMB sebagai panduan implemetasi Kuri-kulum 2004 untuk para guru matematika, (2) Kepala Sekolah dan pengurus MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Matematika hendaknya mengusahakan berba-gai kegiatan formal untuk mensosialisasikan model PMB kepada para guru matematika SMP, (3) para guru mate-matika hendaknya menggunakan model PMB sebagai salah satu pilihan dalam mengimplementasikan Kuriku-lum 2004, (4) pengajar mata kuliah PBM di LPTK perlu memasukkan model PMB sebagai bagian isi dari kuliah PBM, dan (5) peneliti di perguruan tinggi perlu mem-perluas cakupan materi penelitian dengan model PMB yakni untuk topik yang lebih luas.
5. Rosyidi, Abdul Haris. 2005. Analisis Kesalahan Siswa Kelas II MTs Alkhoiriyah dalam Menyelesaikan Soal Cerita yang Terkait dengan Sistem Persamaan Linear Dua Peubah. Tesis, Program Studi Pendidikan Ma-tematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Pembimbing: (I) Prof. R. Soedjadi, dan (II) I Ketut Budayasa, Ph.D.
Kata-kata kunci: Kesalahan siswa, identifikasi, soal cerita
Salah satu topik yang sering menjadi masalah dalam pembelajaran matematika adalah soal cerita. Hasil pengamatan dan diskusi dengan guru matematika kelas II MTs Alkhoiriyah, materi sistem persamaan linear dua peubah merupakan materi yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa khususnya bila dinyatakan dalam bentuk cerita, sehingga siswa sering melakukan kesa-lahan.
Untuk itu penelitian kualitatif ini bertujuan untuk: 1) menentukan letak kesalahan siswa kelas II MTs dalam menyelesaikan soal cerita yang terkait dengan sistem persamaan linear dua peubah, 2) mengidentifikasi jenis kesalahan siswa kelas II MTs dalam menyelesaikan soal cerita yang terkait dengan sistem persamaan linear dua peubah, 3) mengetahui faktor penyebab kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang terkait dengan sistem persamaan linear dua peubah, dan 4) menyusun alternatif rancangan pembelajarannya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitataif. Pendekatan kuantatif merupakan fasilitator untuk pendekatan kualitatif. Prosedur penelitian ini berturut-turut: orientasi lapangan, penyusunan perangkat tes, pelaksanaan tes, pemeriksaan hasil tes dan penentuan subyek penelitian, wawancara sekaligus triangulasi, analisis data, penyu-sunan alternatif rancangan pembelajaran dan perang-katnya, serta penulisan laporan. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan hal-hal berikut:
a. Letak kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang terkait dengan sistem persamaan linear dua peubah adalah: 1) Salah dalam memahami soal, 2) Salah dalam membuat model matematika, 3) Salah dalam menyelesaikan model, dan 4) Salah dalam menentukan jawab akhir soal.
b. Jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang terkait dengan sistem persamaan linear dua peubah adalah kesalahan konsep, prinsip dan operasi.
c. Penyebab kesalahan yang dilakukan siswa adalah : 1). Tidak memahami metode eliminasi dan substitusi baik konsep maupun prinsipnya, 2). Lemah tentang konsep persamaan-persamaan yang ekuivalen, 3). Lemah ten-tang konsep peubah yang digunakan untuk membuat model, 4). Tidak mampu menerjemahkan kalimat soal ke dalam kalimat matematika, 5) Lemah dalam melakukan pembagian, pengurangan dan pen-jumlahan, 6) lemah dalam memahami simbol mate-matika.
d. Alternatif rancangan pembelajaran yang dihasilkan berdasarkan hasil analisis data menggunakan model pembelajaran langsung.
6. Fiantika, Feny Rita. 2005. Pembelajaran Matematika Realistik pada Pokok Bahasan Pencerminan dan Simetri di Kelas IV SDN Pakelan Kecamatan Kota Kediri. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Pem-bimbing: (I) Drs. I Ketut Budayasa, Ph.D., dan (II) Dr. Ismet Basuki.
Kata-kata Kunci: Pembelajaran realistik, model 4D, analisis deskriftif
Latar belakang dilaksanakannya penelitian ini adalah masih rendahnya hasil belajar siswa dalam bidang matematika. Rendahnya nilai matematika tentunya tak lepas dari pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pada pelajaran matematika adalah memperbaiki metode penyajian dan menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik adalah salah satu solusi untuk membawa anak menyenangi matematika karena pada pen-dekatan tersebut siswa terlibat aktif dalam menemukan sendiri konsep atau prosedur matematika berdasarkan masalah-masalah kontekstual yang menekankan pada rea-litas dan lingkungan siswa.
Dalam penelitian ini penulis menerapkan pembe-lajaran matematika realistik pada pokok bahasan pencer-minan dan simetri untuk kelas IV SD. Sebelum menerapkan pembelajaran tersebut peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran modifikasi dari Model 4D. Perangkat pembelajaran yang dimaksud terdiri dari Lembar Kerja Siswa (LKS), Lembar Latihan Mandiri (LLM), Rencana Pembe-lajaran (RP), Buku Petujuk Guru (BPG) dan Tes Hasil Belajar (THB). Penulis tidak mengembangkan instrumen penelitian, namun hanya menggunakan instrumen yang telah dikem-bangkan oleh peneliti terdahulu dengan sedikit modifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan keefektifan pembelajaran matematika realistik pada pokok bahasan pencerminan dan simetri serta mendapatkan informasi apakah hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matematika konvensional untuk pokok bahasan pencerminan dan simetri.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Pakelan Kecamatan Kota Kediri tahun ajaran 2003/2004 yang terbagi menjadi tiga kelas paralel dengan banyak siswa 30 anak setiap kelasnya. Untuk menentukan Kelas ujicoba, kelas eksperimen dan kelas kontrol dipilih secara acak. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang sebelumnya didahului dengan mengembangkan pe-rangkat pembelajaran. Sebelum pembelajaran dilaksanakan siswa diberikan pretest dan sesudah pembelajaran siswa diberikan posttest.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial. Data aktivitas siswa, kemampuan guru dalam mengelola pembe-lajaran, respon siswa, tes hasil belajar dianalisis secara des-kriptif. Analisis ini digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu apakah pembelajaran matematika realistik efektif untuk mengajarkan pokok bahasan pencerminan dan simetri. Sedangkan data tes hasil belajar dianalisis dengan menggunakan teknik statistik inferensial untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu apakah hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matematika konvensional untuk pokok bahasan pencerminan dan simetri.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh hasil: (1) aktivitas siswa dalam pembelajaran efektif; (2) kemam-puan guru dalam mengelola pembelajaran efektif; (3) respon siswa terhadap pembelajaran positif; (4) Ketuntasan belajar secara klasikal tuntas. Dengan dem'ikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematica realistik efek-tif untuk mengajarkan pokok bahasan pencerminan dan si-metri. Berdasarkan hasil analisis statistik inferensial dengan menggunakan analisis kovarian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matema-tika realistik lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matematika secara konvensional.
7. Kamarullah. 2005. Analisis Kesalahan Mahasiswa D-2 PGMI IAIN Ar-Raniry Banda Aceh Tentang Geometri Di Madrasah lbtidaiyah Beserta Alternatif Pembelajaran. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.
Pembimbing: (I) I Ketut Budayasa, Ph.D., dan (II) Dr. Agung Lukito, M.S.
Kata-kata Kunci: Geometri, alternatif pembelajaran, analisis ke-salahan
Program D-2 PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), merupakan salah satu program yang berada dalam lingkungan Fakultas Tarbiyah IAN Jami'ah Ar Ra-niry yang bertujuan untuk menyiapkan guru kelas yang siap pakai. Sebagai calon guru kelas, para mahasiswa PGMI tidak hanya dituntut untuk menguasai bidang ilmu agama saja. Akan tetapi mereka juga harus menguasai berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum Madrasah Ibtidaiyah (MI), salah satunya matematika yang di dalamnya terdapat geometri. Tujuan pembelajaran matematika di D-2 PGMI adalah memberikan bekal penge-tahuan matematika kepada mahasiswa untuk mengajarkan matematika di MI; memberikan pengetahuan matematika untuk diterapkan baik dalam ilmu lain maupun dalam kehidupan sehari-hari; memberikan bekal pengetahuan matematika untuk bekal belajar lebih lanjut; membentuk sikap kritis, membiasakan taat azas, dan cermat dalam berpikir dan bertindak; memberikan pengetahuan untuk mengembangkan ide-ide mengenai pendidikan matematika di MI; memberikan kemampuan untuk menghadapi pe-rubahan-perubahan pendidikan matematika di MI.
Sebagai calon guru, maka pengetahuan tentang objek geometri yang didapat mahasiswa semenjak dari sekolah dasar sampai dengan pendidikan di program D-2 PGMI, merupakan bekal untuk menjadi guru di MI. Apabila pengetahuan tentang objek tersebut keliru, maka kemungkinan besar ketika menjadi guru, apa yang akan diajarkan kepada anak didik juga akan keliru, dan apabila seorang calon guru, maupun guru tidak menyadari akan kekeliruan tersebut, hal ini akan berlangsung secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama.
Untuk mengetahui penguasaan mahasiswa D-2 PGMI IAIN Jami'ah Ar-Raniry tentang geometri di MI, menganalisis jenis dan penyebab kesalahan yang masih dilakukan mahasiswa dan mencari alternatif pembelajaran, peneliti mengadakan penelitian dengan judul: "Analisis Kesalahan Mahasiswa D-2 PGMI IAIN Ar-Raniry Banda Aceh Tentang Geometri di Madrasah Ibtidaiyah Beserta Alternatif Pembelajaran".
Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: 1) Bagaimana profil penguasaan geometri di Madrasah Ibtidaiyah mahasiswa D-2 PGMI IAIN Ar-Raniry? 2) Jenis kesalahan apa yang dilakukan oleh mahasiswa D-2 PGMI IAIN Ar-Raniry dalam menyelesaikan soal tes penguasaan geometri di Madrasah Ibtidaiyah? 3) Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan mahasiswa D-2 PGMI IAIN Ar-Raniry melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal tes geometri di Madrasah Ibtidaiyah? 4) Bagaimana alternatif pembelajaran yang mungkin, agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali pada mahasiswa angkatan be-rikutnya?
Sesuai dengan pertanyaan penelitian, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) Untuk mendeskripsikan profil penguasaan mahasiswa D-2 PGMI IAIN ArRaniry tcrhadap materi geometri di Madrasah Iftidaiyah; 2) Untuk menganalisis kesalahan-kesalahan mahasiswa D-2 PGMI IAIN Ar-Raniri dalam geometri di Madrasah Ibtidaiyah; 3)Untuk menentukan penyebab mahasiswa melakukan kesalahan dalam geometri di Madrasah Ibtidaiyah; 4) Untuk menentukan alternatif pembelajaran agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi pada mahasiswa D-2 PGM1 angkatan berikutnya.
Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuan-titatif. Prosedur penelitian yang dilakukan adalah: penyusunan proposal; pengembangan instrumen; pelak-sanaan tes; pengoreksian lembar jawaban; pendeskripsian data kuantitatif yang meliputi penguasaan mahasiswa; penentuan subjek yang akan diwawancara; penentuan jenis kesalahan; penafsiran penyebab kesalahan; pelak-sanaan wawancara; analisis data dan hasil penelitian; penarikan kesimpulan; mengkaji alternatif pembelajaran; dan menyusun laporan penelitian.
Berdasarkan analisis data hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Profil penguasaan mahasiswa:
a. Untuk skor kategori penguasaan materi ajar geometri di Madrasah Ibtidayah yang meliputi soal tentang bangun datar, penceminan, dan bangun ruang, skor terendah yang diperoleh mahasiswa adalah 4,75 (13,19%), skor tertinggi yaitu 20,5 (56,94%), dengan skor rata-rata yaitu 13,75 (38,19%). Distribusi klasi-fikasi penguasaan mahasiswa yaitu: 1 orang mahasis-wa (2,5%) menguasai, 21 orang (52,5%) kurang me-nguasai, dan 18 orang mahasiswa (45%) yang tidak menguasai.
b. Untuk kategori penguasaan objek geometri di Madrasah Ibtidaiyah yang memuat materi mende-finisikan bangun-bangun segitiga dan bangun-ba-ngun segiempat, pada kategori ini skor terendah 0 (0%), skor tertinggi 22 (62,86%) dengan skor rata-rata 9,49 (27,11%). Distribusi klasifikasi penguasaan mahasiswa yaitu: 8 orang mahasiswa (20%) kurang menguasai dan 32 orang mahasiswa (80%) tidak menguasai.
2. Jenis Kesalahan:
Dari hasil analisis jawaban mahasiswa dan wawancara, diperoleh jenis kesalahan yaitu:
a. Kesalahan konsep, meliputi: Konsep pencerminan; Konsep sumbu simetri; Konsep segiempat, tra-pesium, layang-layang, jajargenjang, belah-ketupat, persegipanjang, dan persegi; Konsep sisi bangun datar; Konsep sisi segitiga yang dapat dijadikan alas; Mendefinisikan bangun datar segitiga dan segi-empat; Konsep prisma dan limas; Konsep sisi bangun ruang yang dapat dijadikan alas; Konsep rusuk bangun ruang; Konsep sisi bangun ruang; Konsep titik sudut bangun ruang.
b. Kesalahan prinsip, meliputi: Prinsip pencerminan; Prinsip keliling bangun datar; Prinsip luas segitiga, luas jajargenjang, luas trapesitun, dan luas belah-ketupat; Prinsip volume tabung dan volume kerucut.
c. Kesalahan operasi, ditemukan adalalah kesalahaan dalam operasi pencerminan.
3. Penyebab kesalahan:
Penyebab mahasiswa mengalami kesalahan yang ditemukan antara lain: Tidak memahani konsep sumbu simetri; Tidak menguasai aturan dan prinsip pen cerminan; Tidak memahami kcdudukan cermin garis; Tidak menguasai konsep segiempat, layang-layang, trapesium, belahketupat; Tidak menguasai sifat layangIayang; jajargen.jang, belahketupat, dan tarpesium. Tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata apa yang ada dalam pemikirannya tentang sebuah konsep, tidak terbiasa mengungkapkan definisi dari sebuah konsep; Tidak terbiasa dengan penggunaan alat peraga; Belum memahami cara mendefinisikan sebuah konsep; Belum menguasai konsep sisi bangun datar; Belum memahami sifat setiap sisi scgitiga dapat dijadikan alas, Belum dapat menemukan hubungan sisi alas dan tinggi bangun ruang; Belum menguasai konsep prisma, limas, tabung, dan balok; Belum memahami konsep sisi, rusuk, dan titik sudut bangun ruang; Belum menguasai prinsip menghitung luas jajargenjang, trapesium, dan luas ling-karan; Belum menguasai prinsip unruk menghitung volume kerucut dan tabung; Salah memahami soal atau kealpaan.
4. Alternatif pembelajaran.
Berdasarkan jenis dan penyebab kesalahan yang dialami mahasiswa dalam menyelesaikan soal tes geo-metri di Madrasah Ibtidaiyah, disusun alternatif pem-belajaran untuk memperbaiki kesalahan. Melalui alter-natif pembelajaran yang disusun tersebut diharapkan pada mahasiswa angkatan selanjutya tidak terjadi lagi kesalahan yang sama. Secara teoritis alternatif pembe-lajaran ditawarkan yaitu penggunaan metode ekspo-sitori dengan berpedoman pada langkah-langkah pengajaran langsung, penggunaan intuisi mahasiswa, dan penerapan toeri Bunner yaitu: indektif, ikonik, dan simbolik. Perangkat pembelajaran yang disusun sebagai kelengkapan model pembelajaran adalah buku penun-tun perkuliahan dan rencana perkuliahan.
8. Subagjo, Ardo. 2004. Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Open-Ended pada pokok bahasan Garis-garis sejajar untuk siswa kelas 2 SMP Negeri II Palangkaraya. Tesis, Program Studi Pendidikan Ma-tematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Pembimbing: (I) Ketut Budayasa Ph.D., dan (II) Prof. DR Muchlas Samani, M.Pd.
Kata-kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Open ended, Statistik Deskriftif
Penelitian dilatar belakangi karena selama ini dilakukan pembelajaran yang berpusat pada guru dan penyelesaian matematika yang hanya terdiri dari satu jawaban. Dengan demikian perlu dicari alternatif pem-belajaran yang berpusat pada siswa dan penyelesaian matematika yang terdiri banyak jawaban. Peneliti mencoba mengembangkan perangkat pembelajaran kooperatif dengan pendekatan open-ended pada pokok bahasan garis-garis sejajar di kelas 2 SLTP Negeri II Palangkaraya. Penelitian ini merupakan penelitian eks-perimen semu yang diawali dengan penelitian pengem-bangan perangkat pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar matematika siswa SMP. Pertanyaan penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pengembangan dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian pembelajaran kooperatif dengan pendekatan openended efektif pada pokok bahasan garis-garis sejajar?
2. Apakah pembelajaran kooperatif dengan pendekatan open-ended efektif pada pokok bahasan garis-garis sejajar?
Efektivitas pembelajaran ditinjau dari peningkatan berfikir kreatif siswa dalam memberikan jawaban atau cara penyelesaian ketuntasan belajar, aktivitas siswa, aktivitas guru, kemampuan guru mengelola pembelajaran, respon siswa terhadap pembelajaran.
Instumen yang digunakan dalam penelitian penelitian ini adalah (1)Hasil Belajar, (2) LKS), (3) lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa, (3) lembar peni-laian kemampuan guru mengelola pembelajaran, (3) Angket respon siswa. Data dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh temuan sebagai berikut:
1. Persentase banyaknya siswa yang menyelesaikan ma-salah open-ended secara mandiri dalam 3 kali per-temuan pada kriteria sangat kreatif menunjukan peningkatan yang berarti yaitu pada dari I, 5% pada pertemuan I, 60% pada pertemuan II, 87,5 % pada pertemuan III.
2. Persentase banyaknya siswa yang menyelesaikan masalah open-ended secara kelompok dalam 3 kali pertemuan pada kriteria sangat kreatif menunjukkan peningkatan seperti yang terlihat dari 0 % pada pertemuan I, 25% pada pertemuan II, 55 % pada pertemuan III.
3. Ketuntasan belajar siswa baik secara individu maupun klasikal sudah tercapai.
4. Aktivitas guru selama proses pembelajaran termasuk efektif
5. Respon siswa terhadap komponen kegiatan pembelajaran 75% mengatakan senang, 75% menganggap baru, 75% berminat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar berikutya seperti yang telah diikuti.
6. Kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif dengan pendekatan open ended termasuk kategori baik.
7. Efektivitas pembelajaran kooperatif dengan pendekatan open-ended pada pokok bahasan garis-garis sejajar untuk kelas 2 di SMP Negeri 11 adalah efektif. |