Depan Profil | Akademik | Brosur | Kontak Pembaca Berita | Artikel | Agenda | Pengumuman | Pusat Download | Galeri
ABSTRAK PROGRAM STUDI S3 PENDIDIKAN MATEMATIKA
Posting: 06 Feb 2009 | Komentar : 0

ABSTRAK   PROGRAM STUDI

S3 PENDIDIKAN MATEMATIKA

Siswono, Tatag Yuli Eko. 2008. Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Identifkasi Tahap Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan Masalah Matematika. Disertasi, Program Studi S3 Pendidikan Matematika, Program Pasca­sarjana, Universitas Negeri Surabaya. Promotor: Prof. R. Soedjadi, Ko-Promotor:  Prof. Ketut Budayasa, Ph.D.

 

Kata-kata Kunci: tingkat kemampuan berpikir kreatif, kefasihan, kebaruan, fleksibilitas,pemecahan masalah, pengajuan masalah

  

Semua orang diasumsikan kreatif, tetapi derajat kreativitasnya berbeda. Keadaan ini menunjukkan adanya tingkat kemampuan berpikir kreatif seseorang yang berbeda. Ide tentang tingkat kemampuan berpikir kreatif telah diungkapkan oleh beberapa ahli, antara lain oleh De Bono, Gotoh, dan Krulik & Rudnick. Tingkat tersebut bersifat umum dan tidak dengan tegas memperlihatkan karakteristik berpikir kreatif dalam matematika. Berpikir kreatif dalam matematika merupakan kombinasi berpikir logis dan berpikir divergen yang memperhatikan fleksibilitas, kefasihan dan kebaruan dalam memecahkan maupun mengajukan masalah.

 

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk merumuskan penjenjangan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam memecahkan dan mengajukan masalah matematika yang valid dan reliabel, serta menemukenali ciri-ciri tahap berpikir kreatif siswa untuk tiap tingkat tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara berbasis tugas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII yang terdiri dari sembilan orang dari SMP Negeri 5 Sidoarjo dan satu orang dari SMP Al Hikmah Surabaya. Proses penelitiannya mengikuti tahap-tahap: (a) merumuskan teori hipotetik awal berdasar kajian teori dan didukung dengan data empiris awal , (b) menvalidasikan draf tingkat berpikir kreatif pada ahli untuk mengetahui validitas isi dan konstruk teori yang dikembangkan, (c) melakukan prapenelitian

untuk membuktikan keberadaan tingkat kemampuan berpikir kreatif, (d) merevisi draf tingkat berpikir kreatif dengan mengajukan teori hipotetik baru, (e) melakukan pengambilan data untuk mengetahui eksistensi tingkat kemampuan berpikir kreatf dalam memecahkan dan mengajukan masalah matematika dan menemukenali ciri-ciri tahap berpikir kreatif untuk tiap tingkat, (f) melakukan analisis dengan metode perbandingan tetap untuk mengetahui reliabilitas penjenjangan kemampuan berpikir kreatif yang dibuat, dan (g) menuliskan penjenjangan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam memecahkan dan mengajukan masalah matematika.

 

Penelitian ini akhirnya menghasilkan penjenjangan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam matematika yang valid dan reliabel sebagai berikut.

 

Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 4 (Sangat Kreatif)

Siswa mampu menyelesaikan suatu masalah dengan lebih dari satu alternatif jawaban maupun cara penyelesaian dan membuat masalah yang berbeda-beda (”baru”) dengan lancar (fasih) dan fleksibel. Dapat juga siswa hanya mampu mendapat satu jawaban yang ”baru” (tidak biasa dibuat siswa pada tingkat berpikir umumnya) tetapi dapat menyelesaikan dengan berbagai cara (fleksibel). Siswa cenderung mengatakan bahwa membuat soal lebih sulit daripada menjawab soal, karena harus mempunyai cara untuk penyelesaiannya. Siswa

cenderung mengatakan bahwa mencari cara yang lain lebih sulit daripada mencari jawaban yang lain.

 

Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 3 (Kreatif)

Siswa mampu membuat suatu jawaban yang ”baru” dengan fasih, tetapi tidak dapat menyusun cara berbeda (fleksibel) untuk mendapatkannya atau dapat menyusun cara yang berbeda (fleksibel) untuk mendapatkan jawaban yang beragam, meskipun jawaban tersebut tidak ”baru”. Selain itu, siswa dapat membuat masalah yang berbeda (”baru”) dengan lancar (fasih) meskipun cara penyelesaian masalah itu tunggal atau dapat membuat masalah yang beragam

dengan cara penyelesaian yang berbeda-beda, meskipun masalah tersebut tidak ”baru”. Siswa cenderung mengatakan bahwa membuat soal lebih sulit daripada menjawab soal, karena harus mempunyai cara untuk penyelesaiannya. Siswa cenderung mengatakan bahwa mencari cara yang lain lebih sulit daripada mencari jawaban yang lain.

 

Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 2 (Cukup Kreatif)

Siswa mampu membuat satu jawaban atau membuat masalah yang berbeda dari kebiasaan umum (”baru”) meskipun tidak dengan fleksibel ataupun fasih, atau siswa mampu menyusun berbagai cara penyelesaian yang berbeda meskipun tidak fasih dalam menjawab maupun membuat masalah dan jawaban yang dihasilkan tidak ”baru”. Siswa cenderung mengatakan bahwa membuat soal lebih sulit daripada menjawab soal, karena belum biasa dan perlu memperkirakan bilangannya, rumus maupun penyelesaiannya. Cara yang lain dipahami siswa sebagai bentuk rumus lain yang ditulis “berbeda”.

 

Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 1 (Kurang Kreatif)

Siswa mampu menjawab atau membuat masalah yang beragam (fasih), tetapi tidak mampu membuat jawaban atau membuat masalah yang berbeda (baru), dan tidak dapat menyelesaikan masalah dengan cara berbeda-beda (fleksibel). Siswa cenderung mengatakan bahwa membuat soal tidak sulit (tetapi tidak berarti mudah) daripada menjawab soal, karena tergantung pada kerumitan soalnya. Cara yang lain dipahami siswa sebagai bentuk rumus lain yang ditulis “berbeda”. Soal yang dibuat cenderung bersifat matematis dan tidak mengaitkan

dengan kehidupan sehari-hari.

 

Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif 0 (Tidak Kreatif)

Siswa tidak mampu membuat alternatif jawaban maupun cara penyelesaian atau membuat masalah yang berbeda dengan lancar (fasih) dan fleksibel. Kesalahan penyelesaian suatu masalah disebabkan karena konsep yang terkait dengan masalah tersebut tidak dipahami atau diingat dengan benar. Siswa cenderung mengatakan bahwa membuat soal lebih mudah daripada menjawab soal, karena penyelesaiannya sudah diketahui. Cara yang lain dipahami siswa sebagai bentuk rumus lain yang ditulis “berbeda”.

 

Tahap berpikir kreatif siswa meliputi tahap mensintesis ide, membangun ide, merencanakan penerapan ide, dan menerapkan ide. Pada tahap mensintesis ide, ide siswa dari TKBK 0 sampai TKBK 4 semakin kompleks dan mengaitkan dengan benda-benda sekitar. Sumber ide siswa dari TKBK 0 sampai TKBK 3 masih tidak melibatkan pengalaman seharihari, sedang pada TKBK 4 sudah menggunakan pengalaman sehari-hari. Pada tahap membangun ide, siswa pada semua tingkat cenderung mencari rumus maupun bilangan yang mudah dan diketahui. Bagi siswa pada TKBK 0 mengartikan “mudah” lebih secara praktis daripada konseptual. Bagi siswa pada TKBK 1 sampai TKBK 4 pertimbangannya selain konseptual juga intuitif (berdasar perasaan). Pada tahap merencanakan penerapan ide, siswa pada TKBK 0 tidak lancar dan tidak produktif memunculkan ide, sedang siswa pada TKBK 1 sudah cukup lancar, tetapi tidak produktif memunculkan ide. Siswa pada TKBK 2 dan TKBK 3 kurang produktif karena masih mengalami kesulitan-kesulitan yang ditunjukkan dari kesalahan yang dibuatnya. Siswa pada TKBK 4 sudah produktif memunculkan ide untuk memecahkan maupun mengajukan masalah. Pada tahap penerapan ide, siswa pada semua tingkat pernah mengalami kesalahan. Siswa pada TKBK 0 sampai TKBK 2 cenderung kurang yakin dan tidak dengan cepat dan tepat memperbaiki ide yang salah. Siswa pada TKBK 3 sudah cukup cepat dan tepat memperbaiki idenya, meskipun masih kurang yakin terhadap jawaban yang dibuat. Siswa pada TKBK 4 sudah cepat dan tepat memperbaiki idenya dan yakin dengan jawaban tugasnya sendiri.

 

Berdasar hasil penelitian itu, maka penjenjangan kemampuan berpikir kreatif siswa dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dan dapat digunakan sebagai dasar penelitian lebih lanjut yang bersifat verifikasi dan  modifikasi.

 

 

Name:
E-mail: (optional)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

Agenda

Pengumuman

Pusat Download